Selasa, 10 Mei 2011

Niat sebagai Jiwa Ibadah

Seorang sufi yang bernama Sa'di dalam karyanya Gulistan mengisahkan:
Ada seorang raja yang ingin membunuh tawanannya. mengetahui hal ini, kontan tawanan itu mengucapkan sumpah serapah dalam bahasa daerahnya yang tentu saja tidak dimengerti oleh sang raja.
" Apa katanya ?" tanya raja pada menerinya.
Salah seorang menteri yang berhati baik berkata , " Baginda,  dia mengatakan bahwa Tuhan telah berfirman " Orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia maka surgalah  ganjarannya".
Rupanya hati raja tersentuh mendengar ini, dan tidak jadi membunuh tawanan itu.
Sementara Menteri lain yang berhati buruk berniat jahat, berkata " Baginda, sebenarnya yang dikatakan  tawanan itu bukanlah demikian. Ia telah  mengucapkan caci maki yang sangat keji terhadap Baginda !"
Mendengar perkataan ini Raja gusar dan berkata padanya, " Kebohongan yang dia ucapkan  lebih bisa diterima daripada kebenaran yang kamu ucapkan. Karena  dia mengucapkannya dengan maksud baik, sedangkan kamu mengucapkannya dengan   NIAT  buruk ".

Menteri pertama pada kisah diatas, berbohong kepada rajanya karena ia teringat pada firman Allah, bahwa dirinya harus  menolong orang yang sedang teraniaya. Apa yang dilakukannya itu tidak mempunyai pamrih pribadi, tetapi semata-mata karena taat menjalankan perintah Allah saja. Sedangkan menteri  yang kedua, menyampaikan kebenaran kepada rajanya karena ia memang ingin " Mencari Muka ".

" SERINGKALI AMAL YANG KECIL MENJADI BESAR KARENA BAIK NIATNYA, DAN SERINGKALI PULA AMAL YANG BESAR MENJADI KECIL KARENA SALAH NIATNYA"




Lihat Artikel TOP Terkait:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

 

Free SEO Tools

MULAILAH SEKARANG !!! Walaupun harus dari nol kecil